Kayu Gergajian

http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/SNI/g-rimba.htm    2009

KAYU GERGAJIAN RIMBA

1.   Ruang lingkup

Standar ini meliputi acuan, definisi, lambang dan singkatan, istilah, spesifikasi, klasifikasi, pembuatan, syarat mutu, syarat ukuran, cara uji, syarat lulus uji, syarat penandaan dan pengemasan, sebagai pedoman pengujian untuk semua gergajian rimba yang diproduksi di Indonesia, kecuali yang sudah ada SNI-nya.

2.   Acuan

The Malaysian Grading Rules for Sawn Hardwood Timbers, Edition 1984.

3.   Definisi

Kayu gergajian adalah kayu persegi empat dengan ukuran tertentu yang diperoleh dengan menggergaji kayu bundar atau kayu lainnya. Sedangkan kayu gergajian rimba adalah kayu gergajian selain Jati.

4.   Lambang dan Singkatan

4.1. p   adalah panjang kayu gergajian  4.7.  mt adalah permukaan tebal 
4.2. t   adalah tebal kayu gergajian    4.8.  ml adalah permukaan lebar
4.3. l   adalah lebar kayu gergajian    4.9.  Ø  adalah diameter cacat
4.4. bh  adalah buah                    4.10. pj adalah panjang cacat
4.5. jml adalah jumlah                  4.11. lb adalah lebar cacat
4.6. btg adalah batang             

5.   Istilah

5.1.   Bontos adalah penampang melintang pada kedua ujung kayu gergajian.

5.2.   Busuk adalah suatu proses penghancuran kayu yang disebabkan oleh jamur.

5.3.   Cacat adalah suatu kelainan yang terdapat pada kayu yang dapat mempengaruhi mutu.

5.4.   Cacat bentuk pada kayu gergajian, adalah kelainan atau penyimpangan bentuk yang disebabkan antara lain oleh pengeringan dan cara menggergaji yang salah, terdiri dari:

5.4.1.   Bentuk permata (diamonding) adalah cacat yang disebabkan oleh perbedaan penyusutan kearah tangensial dan radial, sehingga bontosnya tidak berbentuk segi empat siku tetapi berbentuk jajaran genjang.

5.4.2.   Lengkung (Le) adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah tebal.

5.4.3.   Membusur adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah panjang.

5.4.4.   Mencawan adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah lebar.

5.4.5.   Memuntir atau mellincang adalah suatu penyimpangan dari bentuk lurus pada arah diagonal, apabila kayu tersebut diletakkan pada suatu permukaan yang datar dan rata, maka salah satu tepi sudutnya tidak bersentuhan dengan permukaan.

5.5.   Cacat khas adalah cacat yang merupakan ciri khas jenis kayu tertentu, yang dalam penilaian cacatnya dianggap bukan cacat, antara lain:

  1. Lubang gerek kecil pada kayu Kapur dan Cengal.
  2. Saluran getah pada kayu Pulai, Jelutung dan Jongkong.
  3. Gelam tersisip pada Kayu Kempas dan Tualang.

5.6.   Cacat ukuran adalah bagian kayu yang sudah melebihi toleransi ukuran lebih tetapi belum salah potong.

5.7.   Diameter cacat (Ø) adalah rata-rata panjang dan lebar cacat.

5.8.   Gelam tersisip adalah bakal kulit yang terkubur dalam bagian kayu.

5.9.   Gubal adalah bagian dari kayu yang terdapat antara teras dengan kulit, biasanya berwarna lebih terang dari terasnya.

5.10.  Gubal segar (Guse) adalah gubal yang masih memiliki warna aslinya atau apabila sudah berubah warna, masih dapat dihilangkan pada waktu penyerutan, asalkan tidak mengurangi ukuranbaku.

5.11.   Hati (empulur) adalah bagian tengah dari bontos kayu.

5.12.   Kadar air (Ka) adalah jumlah kandungan air yang terdapat di dalam kayu dinyatakan dalam %.

5.13.   Kantung damar atau getah adalah rongga yang terdapat di antara lingkaran tumbuh atau tempat lainnya di dalam kayu yang sebagian atau seluruhnya berisi getah padat maupun cair.

5.14.   Kayu kurang adalah kayu gergajian yang pada waktu pemeriksanaan mempunyai ukuran yang kurang dari ukuranbaku.

5.15.   Kayu lebih adalah kayu gergajian yang pada wakyu pemeriksaan mempunyai ukuran yang lebih dari ukuranbaku.

5.16.   Kayu pas adalah kayu gergajian yang pada waktu pemeriksaan mempunyai ukuran yang sama dengan ukuranbaku.

5.17.   Kulit tersisip adalah kulit yang terkubur oleh kayu, apabila kulitnya hilang dapat mengakibatkan celah atau lubang pada kayu.

5.18.   Lubang gerek (Lg) adalah lubang yang disebabkan oleh serangga Oleng-Oleng, Inger-Inger atau penggerek lainnya. Berdasarkan besarnya diameter dibagi menjadi:

  1. Lubang gerek kecil (Lgk), Ø < 2 mm.
  2. Lubang gerek sedang (Lgs), Ø antara > 2 mm s/d 5 mm.
  3. Lubang gerek besar (Lgb), Ø > 5 mm.

5.19.   Lubang gerek gerombol adalah lubang gerek yang jumlahnya lebih dari 6 buah pada permukaan kayu yang luasnya 450 cm2.

5.20.   Lubang gerek tersebar adalah lubang gerek yang jumlahnya tidak lebih dari 6 buah pada permukaan kayu yang luasnya 450 cm2.

5.21.   Mata kayu (Mk) adalah bagian dari cabang atau ranting yang dikelilingi oleh pertumbuhan kayu, penampang lintangnya berbentuk bulat atau lonjong, terdiri dari:

5.21.1.   Mata kayu sehat (Mks) adalah mata kayu yang bebas dari pembusukan, bepenampang keras dan berwarna sama atau lebih tua dari pada warna kayu disekitarnya.

5.21.2.   Mata kayu tidak sehat (Mkts) adalah mata kayu yang sudah terserang penyakit yang ditandai dengan sudah berubahnya warna dari warna aslinya, tetapi masih berpenampang keras.

5.21.3.   Mata kayu busuk (Mkb) adalah mata kayu yang menunjukkan tanda pembusukan. Bagian kayunya lebih lunak dibandingkan dengan kayu di sekitarnya.

5.21.4.   Lubang mata kayu (Lmk) adalah mata kayu yang sudah lepas atau berlubang akibat dari berlanjutnya pembusukan atau akibat lainnya.

5.22.   Partai kayu gergajian adalah sejumlah kayu gergajian yang akan diperdagangkan dan atau diperiksa mengenai kebenaran jenis, ukuran dan mutunya, yang berada di tempat asal pengiriman maupun di tempat tujuan.

5.23.   Permukaan adalah kedua permukaan lebar (ml) dan kedua permukaan tebal (mt) kayu gergajian.

5.24.   Permukaan bersih (Mb) adalah bagian kayu gergajian yang bebas dari segala cacat.

5.25.   Permukaan sehat (Ms) adalah bagian kayu gergajian yang mempunyai cacat ringan (Cr).

5.26.   Permukaan pengujian adalah permukaan tempat dilakukan pengamatan, pengukuran dan penilaian cacat serta perhitungan persentase potongan Mb atau potongan Ms dari sekeping/sebatang kayu gergajian.

5.27.   Permukaan terbaik adalah permukaan kayu gergajian dengan jumlah cacat paling sedikit, atau yang menghasilkan persentase potongan Mb yang lebih besar.

5.28.   Permukaan terjelek adalah permukaan kayu gergajian dengan jumlah cacat paling banyak atau lebih berat, dan yang menghasilkan potongan Mb yang lebih kecil.

5.29.   Perubahan warna adalah penyimpangan warna dari warna asli kayu yang disebabkan oleh sifat genetis seperti alur kayu, maupun sebab lain seperti noda karena jamur (blue stain), terbakar matahari, air masuk dan reaksi kimia dari besi mesin.

5.30.   Pingul adalah tidak sempurnanya sudut-sudut kayu gergajian, sehingga penampang lintang kayu gergajian yang mempunyai cacat tersebut mempunyai sudut lebih dari empat.

5.31.   Potongan adalah suatu bidang empat persegi panjang, yangdibuat pada permukaan pengujian kayu gergajian dengan ukuran tertentu, guna menetapkan Mb atau Ms.

5.32.   Salah potong adalah kayu gergajian yang mempunyai perbedaan ukuran antara tebal atau lebar terkecil dengan tebal atau lebar terbesar telah melebihi toleransi ukuran lebih seperti tercantum pada Tabel 7.

5.33.   Saluran getah adalah saluran yang arahnya sejajar dengan jari-jari kayu, umumnya berwarna gelap.

5.34.   Sortimen adalah kelompok kayu gergajian dengan ukuran tertentu.

5.35.   Serat miring adalah serat kayu yang arah penyimpangannya melebihi 1 : 10.

5.36.   Terpisahnya serat adalah celah pada kayu yang disebabkan oleh terpisahnya atau terputusnya serat pada arah memanjang atau sejajar dengan sumbu kayu, terdiri dari:

5.36.1.   Retak (Re) adalah terpisahnya serat pada permukaan kayu yang lebar celahnya < 2 mm dan biasanya terputus-putus disebabkan terutama oleh tegangan yangterjadi dalam proses pengeringan.

5.36.2.   Pecah tertutup, adalah terpisahnya serat pada permukaan kayu hingga bontos yang lebar celahnya < 6 mm dan tidak menembus permukaan lainnya.

5.36.3.   Pecah terbuka adalah terpisahnya serat pada permukaan bontos yang lebar celahnya < 6 mm dan menembus permukaan lainnya.

5.36.4.   Belah (Be) adalah terpisahnya serat pada permukaan kayu yang lebar elahnya > 6 mm, baik menembus maupun tidak menembus permukaan lainnya.

5.36.5.   Pecah melintang adalah terputusnya serat, memotong arah serat pada umumnya.

5.36.6.   Pecah miring atau slemper adalah terpisahnya serat dari arah permukaan lebar ke permukaan tebal kayu gergajian.

5.37.   Toleransi adalah batas penyimpangan yang masih diperkenankan.

5.38.   Ukuranbakuadalah ukuran yang telah ditetapkan atau disepakati sesuai dengan permintaan atau kontrak.

5.39.   Ukuran lebih adalah kelebihan ukuran di atas ukuranbaku

6.   Spesifikasi

6.1.   Cacat kayu gergajian

Cacat kayu gergajian dikelompokkan menjadi, cacat ringan, cacat sedang dan cacat berat.

6.1.1.   Cacat ringan (Cr) terdiri dari :

  1. Mata kayu sehat,
  2. Gubal,
  3. Kantung damar Ø < 3 cm,
  4. Lubang gerek kecil atau sedang tersebar,
  5. Jamur yang apabila diserut tidak mengurangi ukuranbaku,
  6. Gelam tersisip,
  7. Saluran getah,
  8. Retak matahari, dan
  9. Retak saluran getah.

6.1.2.   Cacat sedang (Cs) terdiri dari :

  1. Kantung damar Ø > 3 cm,
  2. Kulit tersisip,
  3. Lubang gerek kecil gerombol,
  4. Lubang gerek sedang kena jamur,
  5. Lubang gerek sedang tembus,
  6. Lubang gerek besar tersebar tidak tembus,
  7. Lubang mata kayu tidak tembus,
  8. Mata kayu tidak sehat,
  9. Mata kayu busuk tidak tembus, dan
  10. Cacat ukuran

6.1.3.   Cacat berat (Cb) atau cacat yang tidak diperkenankan terdiri dari :

  1. Lubang gerek besar tembus,
  2. Lubang gerek sedang atau besar bergerombol,
  3. Lubang mata kayu tembus,
  4. Mata kayu busuk tembus,
  5. Salah potong,
  6. Serat miring,
  7. Pingul, untuk beberapa kelas mutu, dalam batas tertentu, masih diperkenankan,
  8. Busuk,
  9. Pecah melintang,
  10. Pecah terbuka,
  11. Pecah miring atau slemper,
  12. Pecah tertutup, untuk beberapa kelas mutu, dalam batas tertentu, masih diperkenankan,
  13. Belah,
  14. Cacat bentuk, kecuali lengkung dan membusur untuk beberapa kelas mutu dan batas tertentu, masih diperkenankan.ni

6.2.   Sortimen kayu gergajian

Spesifikasi kayu gergajian dapat digolongkan berdasarkan sortimennya menjadi : papan lebar, papan tebal, papan sempit, papan lis, balok, broti dan kayu gergajian pendek. Ukuran dari masing-masing sortimen tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Ukuran sortimen moulding kayu jati

No.

Sortimen

Tebal (Cm)

Lebar (Cm)

Keterangan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Papan lebar (Boards)

Papan tebal (Planks)

Papan sempit (Narrow boards)

Papan lis (Strips)

Balok (Baulk)

Broti *) (Scantlings)

Kayu gergajian pendek (Shorts)

< 5,0

> 5,0

< 5,0

< 1/2 l

> 10

> 1/2 l

-

> 15

> 15

10 – < 15

< 15

> 20

-

-

-

t < 1/2 l

-

-

berhati

-

p < 1 m

Keterangan : *) terdiri dari broti besar (luas bontos > 400 cm2) dan broti kecil (luas bontos < 400 cm2)

7.   Klasifikasi

Kayu gergajian diklasifikasikan berdasarkan mutu penampilan dengan persyaratan cacat tertentu dibagi menjadi 4 (empat kelas mutu yaitu mutu pertama (P), mutu kedua (D), mutu ketiga (T) dan mutu keempat (M).

8.   Pembuatan

Proses pembuatan kayu gergajian dikerjakan sedemikian rupa, sehingga dapat menghasilkan bentuk dan ukuran yanng dikehendaki dengan mutu terbaik dengan ketentuan sebagai berikut:

8.1.   Sisi-sisi sejajar, sudut-sudut siku dan bontos dipotong siku dan rata.

8.2.   Kecuali ditentukan lain, kayu digergaji lebih dari ukuranbaku(kayu lebih), tidak mempunyai kayu kurang atau kayu pas. Toleransi ukuran lebih seperti tercantum pada Tabel 7.

8.3.   Untuk mencegah terjadinya pecah pada waktu pengeringan dan penyimpanan, bontos kayu dilabur dengan bahan pelabur yang baik.

8.4.   Untuk kayu yang mudah diserang jamur atau serangga penggerek, sebelum dikeringkan diawetkan terlebih dahulu dengan anti jamur atau anti penggerek.

8.5.   Setelah digergaji kayu harus dikeringkan, baik dengan pengeringan alami maupun dengan tanur.

9.   Syarat Mutu

9.1.   Jenis kayu

Jenis kayu gergajian harus sesuai dengan nama jenis kayu perdagangan yang tercantum dalam dokumen.

9.2.   Mutu penampilan

Penetapan mutu penampilan kayu gergajian didasarkan pada persyaratan ukuran, persyaratan cacat dan persyaratan potongan, dikelompokkan menjadi:

9.2.1. Syarat mutu sortimen papan lebar, papan tebal, papan sempit dan balok

  1. Pada sortimen papan lebar, papan tebal, papan sempit dan balok, pecah tertutup diperkenanlan pada salah satu bontos atau keduanya dengan jumlah panjang pecah tidak lebih dari 8% panjang kayu.
  2. Persyaratan ukuran, persyaratan cacat lainnya dan persyaratan potongan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Syarat mutu sortimen papan lebar, papan tebal, papan sempit dan balok.

No.

Karakteristik

P

D

T

M *)

I

Ukuran – p (m)

> 2,50

> 1,00

> 1,00

> 1,00

II

Cacat
– Lengkung
– Membusur
– Mks – Ø
          – jrk
– Pingul
 
– Hati (khusus balok)

<
0,7%
x)
< 1/3 ml
> 0,75 m
x)

sehat

<
1,0%
x)
< 1/3 ml
> 0,50 m
x)

sehat

 -)
-)
-)
-)
< 1/8 ml
1 sudut
sehat

-)
-)
-)
-)
-)
 
-)

III

Potongan
– Mb – %
 
        – jml
        – ukuran
– Ms – %
        – jml
        – ukuran
– Cs

 
> 75% **)
Guse < 1/3 ml
<
5 bh
1 m x 8 cm
<
25%
-)
-)
x)

 
> 65% **)
Guse
< 5 bh
0,7 m x 6 cm
>
25%
-)
-)
< 10%

 
-)
-)
-)
-)
> 75%
< 5 bh
0,75m x 6 cm
<
25%

 
-)
-)
-)
-)
-)
 
 
-)

Keterangan :
*)   adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-)    adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x)   adalah tidak diperkenankan

9.2.2.   Syarat mutu sortimen papan lis

  1. Panjang sekurang-kurangnya 1,0 m.
  2. Diperkenankan ada pecah tertutup pada salah satu bontos atau keduanya dengan jumlah pancang pecah tidak lebih dari 2% panjang kayu.
  3. Persyaratan cacat lainnya dan persyaratan potongan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Syarat mutu sortimen papan lis

No.

Karakteristik

P

D

T

M *)

I

Cacat
– Lengkung
– Membusur
– Pingul
 
 
 

 
< 0,7%
x)
x)
 
 
 

 
< 1,0%
x)
x)
 
 
 

 
-)
-)
< 1/8 ml
1 sudut
pada ml
terjelek

 
-)
-)
-)
 
 
 

II

Potongan
– Mb – %
 
         – jml
         – ukuran
– Ms – %
        – jml
        – ukuran
– Cs

 
> 75%
 
< 3 bh
0,75 m x ml
<
25%
-)
-)
x)

 
> 75% **)
Guse < 1/3 ml
<
3 bh
0,75 m x ml
<
25%
-)
-)
x)

 
-)
 
-)
-)
> 75%
< 3 bh
0,75 m x ml
<
25%

 
-)
 
-)
-)
-)
-)
-)
-)

Keterangan :
*)    adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-)    adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x)   adalah tidak diperkenankan

9.2.3.   Syarat mutu sortimen broti

  1. Panjang sekurang-kurangnya 1,0 m.
  2. Persyaratan cacat dan persyaratan potongan, lihat Tabel 4.

Tabel 4. Syarat mutu sortimen broti

No.

Karakteristik

P

D

T

M *)

I

Cacat
– Lengkung
– Membusur
– Mks – Ø
          – jrk
– Pingul
         – broti kecil
 
        – broti besar
 
– Petup
 

 < 0,7%
x)
< 1/3 ml
> 0,75 m
 
x)
 
x)
 
< 4% p

< 1,0%
x)
< 1/3 ml
> 0,50 m
 
x)
 
x)
 
< 8% p

-)
-)
-)
-)
 
< 1/8 ml
 1 sudut
< ¼ ml
 1 sudut
-)

-)
-)
-)
-)
 
-)
 
-)
 
-)

II

Potongan
– Mb – %
 
 
         – jml
         – ukuran
– Ms – %
        – jml
        – ukuran
– Cs

 
> 75%
 
 
-)
0,75 m x ml
<
25%
-)
-)
x)

 
> 75% **)
Guse < 1/3 ml
ml/mt
-)
0,75 m x ml
<
25%
-)
-)
x)

 
-)
 
 
-)
-)
>
75%
-)
0,75m x ml
< 25%

 
-)
 
 
-)
-)
-)
-)
-)
-)

Keterangan :
*)    adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-)    adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x)   adalah tidak diperkenankan

9.2.4.   Syarat mutu sortimen kayu gergajian pendek

Syarat mutu sortimen kayu gergajian pendek, dipisahkan menjadi 2 syarat mutu, yaitu syarat mutu sortimen papan lebar pendek, papan tebal pendek, papan sempit pendek dan papan lis pendek (lihat Tabel 5) dan syarat mutu sortimen broti (lihat Tabel 6).

Tabel 5. Syarat mutu sortimen papan lebar pendek, papan tebal pendek, papan sempit pendek, papan lis pendek dan balok pendek

No.

Karakterstik

P

D

T

M *)

1
2
3

Mb (tanpa cacat)
Ms (mempunyai Cr)
Cs

1 ml
1 ml + 2 mt tanpa lg
x)

1 ml **) Guse
1 ml + 2 mt
x)

-)
2 ml + 2 mt
x)

-)
-)
-)

Keterangan :
*)    adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-)   adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x)  adalah tidak diperkenankan

Tabel 6. Syarat mutu sortimen broti pendek

No.

Karakterstik

P

D

T

M *)

1
2
3

Mb (tanpa cacat)
Ms (mempunyai Cr)
Cs

2 ml+ 2 mt **) Guse 1 sudut
x)
x)

2 ml + 2 mt **) Guse
x)
x)

-)
2 ml & 2 mt
x)

-)
-)
-)

Keterangan :
*)   adalah lebih rendah dari mutu P, D dan T asalkan masih dapat digunakan
**) adalah kecuali
-)   adalah tidak dibatasi/tidak dipersyaratkan
x)  adalah tidak diperkenankan

10.   Syarat Ukuran

110.1.    Sistem satuan ukuran

Sistem satuan ukuran yang diterapkan adalah sistem satuan internasional (SI).

10.2.    Alat ukur

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur dan menguji kayu gergajian, adalah alat ukur yang telah dikalibrasi oleh instansi yang berwenang.

10.3.   Dimensi

Besarnya ukuran tebal, lebar dan panjang kayu gergajian sesuai dengan ukuranbaku.

10.4. Toleransi

Toleransi ukuran kayu gergajian dapat dilihat pada Tabel 7.

No.

Ukuran Baku

Toleransi

1
 
2
 
3
 

Tebal    : < 3 cm
                > 3 cm
Lebar    : < 8 cm
                > 8 cm
Panjang : < 1 m
               > 1 m

< 3 mm
< 6 mm
< 3 mm
< 6 mm
< 25 mm
< 50 mm

11.   Cara Uji

11.1.   Prinsip pengujian

Pengujian dilakukan secara kasat mata (visual) terhadap kecermatan penetapan jenis kayu, ukuran dan penilaian cacat-cacat yang nampak.

11.2.   Peralatan pengujian

Meteran, jangka sorong, pisau dan kaca pembesar (loupe).

11.3.   Syarat pengujian

11.3.1.   Kayu ditempatkan dan disusun sedemikian rupa menurut jenis kayu dan sortimen serta mudah dibalik.

11.3.2.   Pengujian dilakukan pada siang hari atau ditempat yang terang (pencahayaan yang cukup), sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu.

11.3.3.   Pengujian dilakukan secara sensus (100%), sedangkan untuk keperluan pemeriksaan ukuran dan mutu penampilan dilakukan terhadap kayu gergajian contoh, diambil secara acak dan harus mewakili setiap sortimen dan kelas mutu yang ada. Jumlah kayu gergajian contoh dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Jumlah batang kayu gergajian contoh

No.

Populasi per partai

Kayu gergajian contoh

1
2
3
4
5

< 500
501 – 1000
1001 – 2000
2001 – 3000
> 3001

35
60
80
125
5%

Pemeriksaan terhadap jumlah batang dan jenis kayu dilakukan secara sensus (100%).

11.4.   Pelaksanaan pengujian

11.4.1.   Uji jenis kayu

Cara uji jenis kayu adalah dengan memeriksa ciri umum dan struktur anatomi kayu.

11.4.2.   Uji dimensi

  1. Tebal diukur pada bagian tebal tertipis dari kayu, dalam satuan senti-meter (cm).
  2. Lebar diukur pada bagian lebar tersempit dari kayu, dalam satuan senti-meter (cm).
  3. Panjang diukur pada jarak terpendek antara kedua bontos, dalam satuan meter (m).
  4. Isi ditetapkan dengan mengalikan : tebal, lebar dan panjang kayu dalam satuan meter kubik (m3) dengan 4 desimal (empat angka di belakang koma).

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

        t X l X p
Isi  = -----------
         10.000

11.4.3.   Uji mutu penampilan

  1. Permukaan pengujian

Pengamatan, pengukuran dan penilaian cacat serta pembuatan potongan Mb/Ms dilakukan pada permukaan pengujian kayu gergajian. Permukaan pengujian untuk setiap sortimen seperti tercantum dalam Tabel 9.

Tabel 9. Permukaan pengujian kayu gergajian

No.

Sortimen

Permukaan pengujian

Keterangan

1.

Papan lebar, papan tebal, papan sempit dan balok

ml, terjelek

 

2.

Broti

ml, terjelek

Cs pada mt diproyeksikan ke permukaan pengujian dianggap Ms

3.

Papan lis

ml, terbaik

Cs pada ml terjelek diproyeksikan ke permukaan pengujian dianggap MS

4.

Kayu gergajian pendek

keempat permukaan

Tanpa membuat potongan Mb atau Ms

  1. Langkah pengukuran dan penilaian cacat
  • Cacat lengkung. Ukur kedalaman lengkung pada bagian terdalam dan bandingkan dengan panjang kayu dalam satuan %.
  • Cacat membusur. Amati ada tidaknya cacat membusur dan coba amati mudah tidaknya diluruskan dalam pemakaian.
  • Cacat pecah tertutup. Ukur panjang semua pecah tertutup yang terdapat pada setiap ujung kayu dan jumlahkan, kemudian bandingkan dengan panjang kayu dalam satuan %.
  • Cacat mata kayu sehat. Ukur Ø Mks dan bandingkan dengan permukaan lebar, apakah < 1/3 ml atau lebih, serta ukur jarak antar mata kayunya.
  • Cacat pingul. Amati lokasi pingul apakah terdapat pada satu sudut atau lebih, kemudian ukur lebarnya dan bandingkan dengan ml atau mt-nya.
  • Hati (khusus sortimen balok). Amati sehat tidaknya hati pada setiap bontosnya.
  • Cacat lainnya. Amati jenis, ukuran dan penyebaran cacat lainnya serta nilai apakah masuk Cr, Cs atau Cb.
  1. Langkah pembuatan potongan

Buat potongan Mb sesuai dengan persyaratan mutu P dan hitung persentasinya. Apabila tidak memenuhi syarat, buat potongan Mb untuk persyaratan D dan apabila masih tidak memenuhi syarat buat potongan Ms

  1. Penetapan mutu akhir

Berdasarkan hasil penilaian terhadap setiap cacat yang ada serta persentase potongan Mb/Ms dapat ditentukan mutunya. Mutu penampilan kayu gergajian adalah mutu yang terendah.

12.   Syarat Lulus Uji

12.1.   Kayu gergajian contoh

12.1.1.   Dimensi

Kecuali ditentukan lain, dimensi kayu gergajian contoh dianggap lulus uji apabila ukuran lebihnya tidak melebihi toleransi yang diperkenankan. Tebal dan panjangnya tidak mempunyai kayu kurang atau kayu pas, sedangkan lebarnya diperkenankan mempunyai kayu pas dan kayu kurang (< 5 mm), asalkan jumlah batangnya hanya < 10% dari jumlah batang kayu gergajian contoh.

12.1.2.   Mutu penampilan

Mutu penampilan kayu gergajian contoh dianggap lulus uji apabila mutunya sesuai dengan persyaratan mutu yang tercantum pada Tabel 2, 3, 4, 5 dan 6.

12.2.   Partai kayu gergajian

12.2.1.   Apabila > 90% dari jumlah kayu gergajian contoh lulus uji, maka partai tersebut dinyatakan lulus uji.

12.2.2.   Apabila yang lulus uji kurang dari 90%, maka contoh uji ditambah sebesar contoh pertama, dengan hasil pengujiannya dijumlahkan. Apabila > 90% dari jumlah hasil pengujian tersebut lulus uji, maka partai tersebut dinyatakan lulus uji.

13.   Syarat Penandaan

13.1.   Pada kayu gergajian

pada setiap bundel kayu gergajian dimarkahkan tanda pengenal perusahaan (TPP), menggunakan bahan yang tidak udah luntur, terhapus atau hilang.

13.2.   Pada kemasan

Tanda yang dimarkahkan pada satu sisi kemasan adalah :

  • BuatanIndonesia
  • Nama pabrik (tanda pengenal perusahaan)
  • Nama dan kode barang
  • Ukuran (panjang, lebar dan tebal)
  • Kelas mutu penampilan
  • Nomor kontrak
  • Nomor kemasan
  • Tujuan pengiriman (pelabuhan tujuan)
  • Tanda atau keterangan lain atas kesepakatan antara penjual dengan pembeli
  • Nomor SNI

14.   Pengemasan

Kayu gergajian yang akan diekspor atau diperdagangkan harus dikemas sesuai dengan cara pengemasan yang ditetapkan.


[ Menu Utama | Standardisasi ]

[ E-Mail Pejabat | Buku Tamu | Situs Terkait ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/1262        2007

 

KAJIAN EKONOMI KAYU LAPIS DAN KAYU GERGAJIAN
DALAM PENINGKATAN NILAI EKSPOR

Oleh :

Institut Pertanian Bogor

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kayu lapis dan kayu gergajian secara bersama-sama merupakan produk kehutanan yang menghasilkan devisa non-migas bagi negara yang paling besar sampai saat ini.

Kenyataan yang ada sejak tahun 1980-an menunjukan bahwa kebijakan pemerintah dibidang industri kehutanan lebih condong mengutamakan industri kayu lapis dibandingkan kayu gergajian, sehingga industri kayu lapis telah berkembang lebih pesat dibandingkan industri kayu gergajian.

Selanjutnya pola ekspor industri pengolahan kayuIndonesiajuga menunjukan bahwa kayu lapis menjadi primadona dan diberi kesempatan berkembang lebih baik dari kayu gergajian.

Kenyataannya akhir-akhir ini menunjukan bahwa industri kayu lapis yang menjadi primadona tersebut menghadapi berbagai permasalahan, yakni disamping langkanya bahanbakuberkualitas tinggi, juga hambatan perdagangan, terutama dengan hadirnya negara-negara produsen kayu lapis baru sepertiMalaysia. Pada kondisi tersebut dikhawatirkan industri kehutanan pada masa pada masa yang akan datang akan menghadapi persaingan pasar yang lebih berat lagi, baik harga maupun jumlah yang dapat diekspor, yang pada akhirnya akan dapat mempengaruhi perolehan devisa.

Lebih lanjut, dalam menghadapi pasar bebas APEC yang secara efektif akan dilaksanakan mulai tahun 2020, dimana hambatan perdagangan (trade barrier) secara bertahap harus dihapuskan, maka kebijakan diskriminatif bagi semua produk dalam perdagangan seperti yang diberlakukan pada kayu gergajian perlu dikaji kembali.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya keragaan dan peran ekonomi industri kayu gergajian dan kayu lapis berdasarkan beberapa kriteria seperti : biaya sumber domestik (DRC), peningkatan nilai tambah (added value), penyerapan tenaga kerja, dan efisiensi pemanfaatan modal investasi (ICOR). Keragaan dan peranan kedua jenis industri tersebut sangat perlu diketahui dalam rangka merumuskan kebijakan pengembangan industri kehutanan yang optimal di Indonesia.

METODOLOGI

Analisis peran kayu lapis dan kayu gergajian terhadap ekonomi nasional dinilai berdasarkan 4 kriteria, yaitu :

  1. Biaya Sumber Domestik (DRC = Domestic Resource Cost)

Analisis ini digunakan untuk mengetahui berapa besar biaya domestik yang diperlukan dalam memproduksi dan mengekspor suatu produk untuk dapat memperolehy suatu unit devisa. Makin kecil nilai DRC suatu industri berarti makin efisien industri tersebut dalam memanfaatkan sumber domestik untuk menarik pendapatan dari sumber luar negeri, yang berarti lebih baik bagi pembangunan ekonomi nasional.

2. Peningkatan Nilai Tambah (added value)

Analisis ini digunakan untuk mengetahui berapa besar tambahan nilai manfaat yang diperoleh dari proses industri pengolahan kayu bulat. Nilai tambah merupakan selisih nilai penjualan produk dikurangi harga bahan bakudan pengeluaran-pengeluaran lain yang bersifat eksternal.

3. Penyerapan Tenag Kerja Langsung

Analisis ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar suatu industri mempunyai daya serap tenaga kerja, baik secara total/volume industri maupun per satuan bahan baku(m3 log).

4. Efisiensi Pemanfaatan Modal Investasi (ICOR = Incremental Capital Output Ratio)

Analisis ini digunakan untuk mengetahui berapa besar tambahan modal yang harus diinvestasikan untuk memperoleh tambahan suatu unit output. Makin kecil nilai ICOR suatu industri berarti makin efisien industri tersebut dalam penggunaan modal.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Berdasarkan analisis DRC diperoleh nilai DRC kayu lapis sebesar Rp. 1.480,- yang lebih besar dari nilai DRC kayu gergajian sebesar Rp. 1.384,-. Sementara itu nilai tukar 1US$ = Rp. 1.664,-. Hal itu mengandung arti bahwa dalam penciptaan devisa industri kayu gergajian lebih efisien menggunakan biaya dalam negeri dibandingkan dengan industri kayu lapis.

2. Analisis nilai tambah menunjukan bahwa dengan tidak memperhitungkan industri kayu lanjutan, maka nilai tambah total industri kayu lapis sebesar kurang lebih Rp. 795,9 milyar lebih unggul dari kayu gergajian sebesar Rp. 265 milyar. Hal ini diduga kuat berkaitan dengan beberapa faktor antara lain : dukungan kebijakan ekonomi dari pemerintah, alokasi kayu bulat untuk industri kayu lapis (66,89%) jauh lebih besar dari kayu gergajian (14,95%).

3. Berdasarkan besarnya daya serap tenaga kerja langsung, industri kayu lapis lebih unggul (140.578 orang per tahun) dari kayu gergajian (68.298 orang per tahun). Hal ini terjadi karena faktor kebijaksanaan yang telah disebutkan diatas. Namun demikian, jika daya serap tenaga kerja dihitung berdasarkan per m3 penggunaan kayu bulat (log) oleh industri, maka daya serap tenaga kerja oleh industri kayu gergajian menjadi lebih besar (14,16 pekerja per 1000 m3 log) dibandingkan dengan industri kayu lapis (9,43 pekerja per 1000 m3).

4. Berdasarkan hasil perhitungan nilai ICOR yang menunjukan berapa besar tambahan modal yang harus diinvestasikan untuk memperoleh tambahan satu unit output, maka diperoleh hasil bahwa industri kayu gergajian lebih unggul dari kayu lapis dengan nilai ICOR 5,03.

Apabila selain empat kriteria diatas, dipertimbangkan pula kriteria-kriteria : besarnya limbah bahanbaku, pertumbuhan industri kayu lanjutan dan pemerataan pendapatan masyarakat maka akan menunjukan bahwa industri kayu gergajian lebih unggul lagi daripada industri kayu lapis.

Suatu perhitungan optimalisasi industri kayu Indonesia yang berdasarkan kriteria efisiensi penggunaan bahan baku (log), daya serap tenaga kerja per m3 bahan baku, harga tenaga kerja, nilai tambah per m3 bahan baku dan pajak langsung menunjukan bahwa posisi ranking industri kayu gergajian lebih unggulo daripada industri kayu lapis. Lebih lanjut perhitungan tersebut menyarankan adanya peningkatan volume industri kayu gergajian dan pengurangan industri kayu lapis dalam keterbatasan penyediaan bahanbaku yang ada.

REKOMENDASI

Berdasarkan pengalaman keragaan industri kehutanan masa lalu dan melihat beberapa tantangan yang akan terjadi di masa datang, seperti adanya pasar bebas, sumber daya hutan yang makin terbatas, dan tuntutan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi yang semakin kuat dan lain-lain, maka studi ini merekomendasikan agar kebijaksanaan industri kehutanan di Indonesia yang selama ini cenderung mengutamakan industri kayu lapis perlu diperbaiki, yakni diarahkan untuk meningkatkan industri penggergajian dan industri pengolahan kayu hilir yang dari keragaan ekonominya lebih efisien. Sementara itu industri kayu lapis dipertahankan pada kondisi yang sudah ada. Kecuali apabila ketersediaan sumber daya produksi dan investasi diIndonesiasemakin terbatas, secara terpaksa industri kayu lapis perlu dikurangi.

Berkaitan dengan rekomendasi tersebut maka hambatan (barrier) perdagangan untuk produk-produk industri tertentu, khususnya terhadap kayu gergajian, perlu diperbaiki dan disesuaikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

http://vansaka.blogspot.com/2010/03/jenis-sortimen-kayu-gergajian.html

Jenis Sortimen Kayu Gergajian

Sortimen Spesifikasi Pasaran Umum (General Market Spesification), kayu gergajian untuk tujuan pemakaian umum dan harus melalui proses pengerasan lagi sebelum dipakai. Terdiri antara lain:
1. Sortimen Besar (Flitches): Kayu gergajian tanpa hati
Tebal > 10 cm
Lebar > 20 cm
Panjang 90 cm, keatas naik dengan 10 cm

2. Papan Lebar (Boards): Kayu gergajian
Tebal ≤ 5 cm
Lebar ≥ 15 cm
Panjang 45 cm, keatas naik dengan 15 cm

3. Papan Tebal (Planks): Kayu gergajian
Tebal 5,6 cm-10 cm
Lebar 15 cm keatas
Panjang 45 cm, keatas naik dengan 15 cm, dimana ukuran tebal setengah lebih kecil dari ukuran lebar

Sortimen Spesifikasi Pasaran Khusus (Special Market Specification) adalah sortimen yang lazim digunakan untuk tujuan pemakaian khusus tanpa digergaji lagi. Menurut cara pemakaiannya dibagi atas empat golongan sortimen, yaitu;
a. Golongan Sortimen Strips
1. Papan Sempit (Strips)
Lebar lebih kecil dari 15 cm
Tebal setengah lebih kecil dari lebar
Panjang lebih besar atau sama dengan 45 cm, naik dengan 15 cm
2. Flooring strips
3. Flooring bloks
4. Battens
Lebar 6,3 cm
Tebal 3,1 cm
Panjang 50 cm, keatas naik dengan 10 cm

b. Golongan Sortimen Decks (Papan Geladak)
1. Decks
Lebar 10 cm; 12,5 cm; 15 cm
Tebal 5 cm; 5,6 cm; 6,25 cm; 7,5 cm
Panjang 3 meter, naik dengan 15 cm

2. Wagon planks
Lihat Decks

c. Golongan Sortimen Water Levels (Kayu Sipatan)
1. Wode and Panels
Lebar ≥ 15 cm

2. Water Levels
Lihat Battens

3. Clapsboards
Lihat Battens

4. Cross Arms
Lihat Battens

5. Small Squares
Ialah kayu gergajian yang ukuran tebalnya sama dengan ukuran lebarnya, maksimal 7,5 cm

d. Golongan Sortimen bantalan
1. Bantalan Kereta Api
2. Bantalan Jembatan
3. Wessel
4. Lori

Beberapa jenis Sortimen gergajian Sejenis dan Ukurannya yang sering diperdagangkan
1. Scantlings
Tebal 10 cm
Lebar ≤ 15cm
Panjang 45 cm, keatas naik dengan 15 cm
Ukuran tebal > ½ lebarnya

2. Squares
Kayu gergajian yang tebalnya sama dengan ukuran lebar

3. Door Component (Komponen Pintu)
Tebal 4,4 cm
Lebar 12,5 cm; 15 cm; 20 cm
Panjang 210 cm; 215 cm; 220 cm; 230 cm; 235 cm

4. Window Component (Komponen Jendela)
Tebalnya 4,4 cm
Lebar 6,3 cm; 12,5 cm; 15 cm; 20 cm; 25 cm; 30 cm
Panjangnya 70 cm; 75 cm; 90 cm; 100 cm

5. Tiang
Ukuran tebal sama dengan ukuran lebarnya
Antara lain 8×8 cm; 10×10 cm; 12×12 cm; 15×15 cm
Panjang 2 meter keatas dengan kenaikan 10 cm

6. Kusen
Tebalnya minimal sama dengan setengah ukuran lebar
Antara lain 6×12 cm; 8×15 cm; 10×12 cm; 10×15 cm
Panjang 2 meter dan keatas dengan kenaikan 10 cm

7. Galar
Ukuran tebalnya sama dengan setengah dari ukuran lebarnya
Antara lain 4×8 cm; 5×10 cm; 8×12 cm; 7,5×15 cm
Panjang 2 meter dan keatas dengan kenaikan 10 cm

8. Kaso
Ukuran tebal dan lebarnya adalah 4×6 cm; 5×7 cm
Panjang 1,5 meter keatas

9. Reng
Ukuran tebal dan lebarnya adalah 2×3 cm; 3×4 cm
Panjang 1 meter keatas

 


About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.625 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: